DPC PKB Lombok Barat Hadiri Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Teguhkan Khidmah dan Aspirasi Nahdliyin.
  • Admin Website
  • 27 Agustus 2026
  • 42 x
Depan Ponpes Bahrul Ulum Jombang

Jombang, 26 Agustus 2026 — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Indonesia. Di antara yang hadir adalah Ketua DPC PKB Kabupaten Lombok Barat, TGH. Hardiyatullah, M.Pd, bersama sejumlah anggota Fraksi PKB DPRD Lombok Barat.

Kehadiran mereka tidak berlangsung dalam satu rombongan dan waktu yang sama. TGH. Hardiyatullah, M.Pd hadir bersama rombongan JATMAN NTB, sementara sejumlah anggota Fraksi PKB Lombok Barat datang melalui rombongan dan waktu yang berbeda. Meski berbeda perjalanan, tujuan yang dibawa tetap sama: bersilaturahmi, menyaksikan momentum penting NU, sekaligus menunjukkan kecintaan dan penghormatan kepada jam’iyah.

Muktamar ke-35 NU berlangsung 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai forum musyawarah tertinggi NU untuk merumuskan arah perjuangan organisasi lima tahun ke depan, memperkuat ukhuwah, serta menetapkan keputusan-keputusan strategis jam’iyah.

NU dan PKB: Berbeda Wadah, Beririsan dalam Sejarah dan Perjuangan

Bagi PKB, kehadiran di momentum Muktamar NU memiliki makna yang sangat kuat. PKB dan NU adalah dua entitas yang berbeda secara kelembagaan, sehingga NU bukan partai politik dan PKB bukan organisasi NU. Namun, secara sejarah, PKB lahir pada era Reformasi dari aspirasi politik warga Nahdliyin dan melalui proses yang melibatkan PBNU. PKB kemudian menjadi salah satu wadah politik yang membawa aspirasi masyarakat, khususnya warga yang memiliki kedekatan dengan tradisi dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Karena itu, hubungan NU dan PKB tidak semestinya dipahami hanya dalam hubungan struktural organisasi, tetapi juga dalam ikatan sejarah, kultural, nilai, dan aspirasi masyarakat Nahdliyin.

Bagi kader PKB, mencintai NU berarti menghormati ulama, menjaga tradisi, memperjuangkan kemaslahatan umat, dan menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kerja-kerja politik yang berpihak kepada masyarakat.

Hadir Bukan Karena Memiliki Suara, Tetapi Karena Memiliki Kecintaan

TGH. Hardiyatullah menyampaikan bahwa kehadiran di Muktamar bukan semata-mata karena memiliki hak suara dalam forum.

“Kami hadir bukan karena memiliki suara dalam Muktamar, tetapi karena memiliki kecintaan kepada jam’iyah. Kami ingin menyaksikan, bersilaturahmi, mengambil keberkahan, dan membawa pulang semangat perjuangan untuk diteruskan di Lombok Barat.”

Kehadiran dari Lombok menjadi bagian dari pemandangan besar Muktamar, ketika warga NU datang dari berbagai daerah dengan jalur dan waktu yang berbeda. Ada yang menempuh perjalanan melalui udara, darat, maupun laut. Jarak yang jauh tidak menjadi penghalang karena semuanya memiliki satu semangat: kecintaan kepada NU dan keinginan untuk terus berkhidmah.

Demikian pula dengan kader-kader PKB Lombok Barat. Walaupun tidak datang dalam satu rombongan dan tidak pada waktu yang sama, mereka dipertemukan oleh satu semangat yang sama untuk hadir di tengah momentum penting jam’iyah.

Harapan: Hasil Muktamar Harus Dirasakan Umat

Muktamar bukan hanya tentang pergantian atau penetapan kepemimpinan. Lebih dari itu, Muktamar harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan menghadirkan arah baru yang lebih kuat bagi NU.

Karena itu, harapan kami sederhana tetapi penting:

Semoga hasil Muktamar ke-35 NU benar-benar membawa perubahan yang nyata.

Bukan hanya perubahan di tingkat struktur dan kebijakan organisasi, tetapi perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh warga NU di akar rumput; memperkuat pesantren, pendidikan, dakwah, ekonomi umat, kaderisasi, pelayanan sosial, serta memperluas kemanfaatan NU bagi masyarakat dan bangsa.

Energi besar yang terkumpul di Tambakberas harus kembali menjadi energi pengabdian di daerah.

Bagi PKB Lombok Barat, kehadiran dalam momentum Muktamar juga menjadi pengingat bahwa politik harus terus diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan. Aspirasi masyarakat harus diperjuangkan melalui kerja nyata, sementara nilai-nilai keagamaan, tradisi pesantren, dan penghormatan kepada ulama harus tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan amanah politik.

Dari Tambakberas kami belajar, dari Muktamar kami mengambil semangat, dan ke Lombok kami membawa harapan.

Semoga Muktamar ke-35 NU melahirkan keputusan terbaik, kepemimpinan yang amanah, serta arah perjuangan yang semakin kuat dalam menjaga marwah NU dan memperluas khidmat untuk kemaslahatan bangsa.

NU kuat dalam khidmah, PKB kuat dalam perjuangan politik, dan masyarakat harus menjadi penerima manfaat dari keduanya.